hari yang baru…
hari yang cukup cerah di awal tahun baru hijriyah ini.
berbeda dengan tahun baru masehi yang dihiasi oleh hingar-bingar hiburan di berbagai pusat kota, bunyi terompet dari pada pengendara di jalan yang tak merasakan kantuk, dan dering handphone karena ada sms masuk ke inbox yang isinya seragam “selamat tahun baru yah”. tapi ini tahun baru islam, bukan itu yang sebenarnya kita cari.
melihat kebelakang berapa banyak yang telah kita lakukan di tahun kemarin, berapa banyak dosa yang terus terakumulasi kemudian mengendap hingga hati ini mulai berubah menjadi sedikit abu dan lama kelamaan menjadi hitam, hati berpenyakitan karena amal tak lebih banyak ketimbang dosa.
biasanya di awal tahun kita merencanakan apa saja yang ingin kita capai selama satu tahun penuh, namun ditengah jalan sering ada hal yang melalaikan hingga tujuan kita luput dari ingatan. saya lupa akan tujuan bertahan di tanah rantau ini, lupa untuk apa waktu panjang kuliah ini dijalani, lupa hakikat dari mencari rizki, lupa usia terus berkurang kesempatan beramal menyempit. ah tapi sudahlah, untuk apa menyesali hal yang telah dilewati yang terpenting kita belajar dari kesalahan kemarin dan terus berusaha merubah diri.
bersilaturahmi pada saudara yang telah lama kita tak kunjungi, silaturahmi akan membuka pintu rizki. ketika saya berkunjung ke sana ada sebuah pelajaran penting yang dapat dipetik, ternyata saudara saya ini perlu diberi bantuan beliau hidup sederhana dengan anak 3 plus para menantunya plus dengan cucunya 3. kebetulan saudara saya ini juga tinggal di daerah yang sebagian warganya di haruskan hidup sederhana, satu rumah cukup sederhana untuk seluruh anggota keluarga, tak ada sofa yang ada hanyalah tikar yang kecil, untuk alas kepala tak ada sarung bantal melainkan bantal yang di selimuti oleh plastik untuk beras. padahal saya sendiri tinggal dengan fasilitas yang bisa dibilang cukup, saya bisa tidur di kasur yang nyaman, kamar yang cukup besar bahkan ada ruang untuk menyimpan akuarium ular saya. ketika melihat keluar ternyata saya melihat banyak ibu-ibu yang menjajakan masakan matang ke tiap rumah, tak ketinggalan warung yang menjamur disetiap belokan, gang sempit yang hanya mampu dilewati motor. ternyata masih banyak saudara kita yang memang sedang diberi ujian oleh Allah untuk hidup sederhana, ladang untuk kita sebagai orang yang punya rizki lebih untuk lebih peduli lagi terhadap mereka.
habis mengunjungi saudara saya arahkan motor ke salah satu pusat perbelanjaan di daerah bandung kota, sangat kontras itu yang bisa saya katakan ketika melihat banyak orang yang memiliki rizki berlebih kemudian membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tidak pokok. saya melihat begitu mudahnya orang membeli laptop, seperti membeli gorengan. membeli pakaian yang setara dengan bayaran bibi tukang cuci di kosan saya. kadang hati ini tergoda, kapan yah saya diberi kepercayaan oleh Allah dengan rizki yang lapang sehingga saya bisa belanja seperti mereka sepertinya “menyenangkan”.
berkelebihan atau kekurangan adalah sama, sama-sama ujian dari Allah bagi hambanya, menguji sejauh mana hambanya mengenal sang pemilik jiwa. kalau tidak hati-hati bisa saja kita menjadi seorang yang kufur nikmat dan tak penyabar. bolehlah kita melihat ke atas, namun yang namanya melihat keatas pasti tak ada ujungnya padahal masih banyak sesuatu dibawah kita yang seharusnya kita menjadi hambanya yang bersyukur.
mari kita peduli dengan saudara kita bantulah dengan semampunya, sebenarnya sebaik-baiknya di antara kita adalah yang membawa manfaat bagi saudaranya. “selamat tahun baru teman-teman semua, semoga diberi usia yang barokah”. amien



Tahun Baru, Semangat Baru…
semoga tahun ini harus lebih baik dari tahun kemarin, amien
berkunjung