Siang terik tak membuat saya membatalkan rencana untuk berbelanja beberapa kebutuhan hidup untuk sebulan kedepan, maklum hidup sendiri di ujung pulau jawa. Loh kok cowok belanja bulanan sih? Memang salah ya. Ketika dalam perjalanan menuju salah satu pusat perbelanjaan, saya dibuat penasaran karena laju angkot terhenti lalu ada kerumunan orang, “ada maling” menurut salah satu pejalan kaki ketika ditanya oleh abang supir.
Wah siang bolong kayak gini ada juga ya tukang maling yang nekat beraksi, dan sialnya dia gagal he. Saya pun memutuskan untuk turun dari angkot untuk melihat keadaan dan kebetulan tempat yang dituju tinggal tiga ratus meter lagi. Baru beberapa langkah menjauhi angkot saya melihat pemandangan seseorang yang kaki dan tangannya diborgol kemudian ia gotong oleh dua aparat hukum layaknya binatang.
Ini bukanah suatu pemandangan yang aneh, mungkin kita sering melihat peristiwa seperti ini di acara kriminal. Namun bukan berarti dengan seringnya kita melihat tayangan seperti ini hati akan menyutujui begitu saja, sang pelaku memang melakukan hal kriminal dan perlu di beri hukuman tapi harus seperti inikah caranya. Memperlakukan saudaranya layaknya binatang bukan saja sebuah hukuman namun juga sesuatu yang dapat menodai nilai moral yang ada. Seandainya hal seperti ini menimpa sanak kerabat tentu kita takkan terima dan akan marah. Sang khalik sudah menganugrahi kemuliaan bagi manusia dibandingkan makhluk lainnya, namun mengapa kita malah mencoba untuk merendahkannya, apakah suatu kesalahan saudara kita dapat menghapus rasa kemanusiaan yang telah tuhan anugerahkan pada kita, apakah tak ada lagi cara yang lebih layak?.
Dua moment yang saling barlawanan tersaji saat ini, masih hangat berita tentang seorang nenek yang mencuri tiga buah kakao lalu dituntut penjara satu setengah bulan, sang penuntut beralasan kalau semua ini adalah suatu bentuk pelajaran agar tak ada lagi para pencuri kakao di kebunnya. Hal yang kontras tersaji ketika kita melihat sebuah fakta seorang penyuap dan makelar kasus masih bisa tidur nyenyak padahal bukti atas kesalahannya sudah diketahui oleh umum, tak ada yang namanya peristiwa borgol kaki atau tangan dan tak ada pula ia di gotong layaknya hewan seperti pencuri jalanan tadi.
”hati nurani ini senang akan rasa adil dan kasih sayang namun apadaya harta dan jabatan telah mengaburkan semua itu”
Ada seekor anak kucing yang bermain di tengah jalan, kemudian saya mencoba untuk memindahkannya. Saya tangkap lalu sedikit saya lempar ke tempat yang aman, bukan ucapan terimakasih yang saya terima tapi caci maki dari sang pemiliknya. Suatu realita yang ada saat ini, menyimpulkan berbagai peristiwa hanya dengan fakta yang ada tanpa mendalami nilai-nilai yang ada didalamnya.
Yuks mulai hari ini kita belajar untuk menjernihkan hati dan fikiran…









komen teman